Rolles Herwin
  • Home
  • Startup
    • Idea Projects
  • My Blog
    • My Blog
  • Office Life
    • Office Life
  • Campus
    • Case Study
    • Research

Rolles Herwin Sihombing (c) 2019

Interview, sebuah cerita di pagi hari

My Blog Aug 10, 2015

Rasanya, hampir setiap orang yang bekerja pernah menjalankan ritual “wawancara” atau istilah kerennya interview. kadang interview, menjadi hal yang paling ditunggu oleh mereka yang sangat ingin bekerja atau ingin pindah kerja, namun bagi sebagian orang yang masih pertama kali interview sekalipun sudah expert, hal tersebut tetap menjadi bagian yang “menakutkan”.

Alkisah disuatu sore, dering telepon berbunyi dari nomor tidak dikenal, ternyata head hunter yang menawarkan sebuah posisi diperusahaan ternama, jobdesknya sangat baru buat gw, tetapi menantang. Akhirnya, gw terima saja tawarannya, jadilah interview dipagi hari.

Sebagai orang yang baru memiliki 1x pengalaman interview, gw berusaha mencari tahu apa lagi yang di inginkan oleh perusahaan ini dan tentu saja kisi-kisi pertanyaan HR. biasanya sih, gw yang menginterview orang dan proses itu sudah rutin gw lakukan beberapa tahun, tapi sekarang, gw yang di interview.

Hari intrerview pun tiba, gw membawa salinan resume gw. datang ke kantor dengan bermodalkan celana jeans, kemeja lengan panjang dilipat, sesuai dengan permintaan end-user dari kantor tersebut.

 

wawancara pun dimulai, kurang lebih begini percakapannya (gw : rolles, xy : interviewer)

gw : pagi bu, saya rolles herwin, senang bertemu dengan ibu xxx

xy : pagi pak rolles, mau kopi teh? snack juga boleh

gw : kopi boleh bu.

gw : ini resume saya bu, silahkan

xy : gak usah pak, saya punya salinannya.

//learning : ternyata “membawa resume tidak mutlak dalam wawancara”

xy : silahkan pak kopinya, ini gulanya kalau kurang.

gw : siap, saya seduh dulu ya bu.

// gw tau si ibu ini memperhatikan gw dengan seksama, apa yang gw lakukan dengan kopi itu. dia memperhatikan dengan detil (apakah ini test pertama? who knows).

xy : kalau minum kopi, gulanya selalu dua sendok teh ya pak?

gw : ngga sih bu, tergantung tipe kopi, mood dan maunya lidah seperti apa hehe. 

//learning : perhatikan apa yang anda lakukan ketika berada di ruang interview.

xy : great, oke perkenalkan nama saya xxx sebagai senior VP, bla bla bla…

//panjang lebar beliau menceritakan semua dengan detil, terstruktur, tanpa interupsi dan tanpa teks. gw cuma mengangguk tanda paham dan sesekali berkata “woow, cool, great, awesome, waw, mantaap”. semoga saja kata-kata itu mempengaruhi faktor penerimaan…..

//dan 25 menit pun berlalu.

xy : nah sekarang giliran pak rolles yang bertanya, silahkan

//matilahh, bukannya dia yang harus bertanya dan gw menjawab, gw harus bertanya apa yang dia jelaskan barusan atau apa ya?

gw : plan jangka panjang divisi ini apa bu? kenapa harus bla bla bla

//gw pun mengeluarkan 9-12 pertanyaan…. tik tik tik tik, tidak terasa sudah 35 menit.

//learning : belajarlah mengubah jawaban menjadi pertanyaan, hidup itu harus fleksibel.

xy : ada pertanyaan lagi?

gw : ibu gak bertanya ke saya, kan biasanya wawancara, saya yang di tanyain bu?

xy : terlalu standar, anda pasti sudah mempersiapkan jawabannya, kalau sekarangkan, anda bertanya karena tidak tahu jawabannya dan ini sekaligus untuk mencari tahu, seberapa ideal anda untuk perusahaan kami. dari cara anda berpakaian sesuai request saya, cara anda minum dan menyeduh kopi tadi, cara anda bertanya, itu jauh lebih berharga daripada anda saya bertanya ini itu dengan template jawaban anda googling, right?

gw : betul sekali bu, jujur saya terpukau dengan metode ini.

//learning : kita lebih siap untuk ditanya daripada bertanya, itulah mengapa ketika gw mengajar dikelas “yg mau bertanya hanya sedikit”, mereka lebih siap untuk ditanya, tapi ketika ujian tetap aja mereka gak siap, entah kenapa.

xy : ada lagi yang ingin anda ketahui tentang saya dan perusahaan ini?

gw : rasanya saya sudah mendapatkan banyak jawaban, ibu yang lebih banyak melakukan selling dibandingkan saya. serius saya tidak ditanyain bu?

xy : metode ini sudah saya terapkan dalam beberapa bulan terakhir dan efektif, perusahaan harus menjelaskan dirinya dengan detil agar calon karyawan paham kondisi perusahaan, sehingga calon karyawan tahu nanti dia harus melakukan apa.

//learning : kenali perusahaan yang akan anda tuju, karena anda yang harus beradaptasi terlebih dahulu, bukan perusahaan.

gw : bila kandidat terbaik kalian memutuskan tidak bergabung saat ini, apa yang kalian lakukan bu?

xy : melakukan seleksi kembali dari awal, buka lowongan, filter dan finalisasi. proses seperti ini lagi

gw : kenapa tidak memilih kandidat kedua?

xy : jangan mengganti rotan dengan akar, nanti hasilnya tidak maksimal.

//learning : jangan terlalu memegang teguh pepatah lama, evolusi sudah jauh meninggalkan kita.

gw : sepertinya saya paham prinsip itu hehehe. baik bu, saya sudah cukup sepertinya.

xy : baiklah, terima kasih untuk waktunya, kami akan konfirmasi hasilnya 2 minggu kedepan

…

 

Kebanyakan perusahaan sibuk menelanjangi pelamar kerja, sementara mereka tidak membuka diri terhadap calon karyawan, mungkin mereka berpikir bahwa pelamarlah yang membutuhkan mereka, padahal dalam prakteknya, perusahaan yang membutuhkan karyawan, karena mereka yang memasang iklan “dicari/urgent/ dibutuhkan segera”.

Dengan membiarkan pelamar bertanya bebas, kita bisa menggali potensi, minat dan ketertarikan mereka terhadap perusahaan, bila anda jeli, anda akan paham “attitude” mereka dalam waktu singkat.

 

About ROLLES HERWIN – Business Development | Startup Development | Loyalty Program

The life of a project, from conception to execution, is a passion of mine. From a simple Tweet to an entire undertaking of a new department, I enjoy it all.

I am passionate about product development, startup development, creating product from concept and teaching.

I can be reached at hello@rollesherwin.com or 0813.30.632.632 .

 

 

 

 

 

  • D4521
  • interview
  • jobs
  • rolles herwin
  • startup gagal
  • wawancara
Newer Older

Leave A Comment

Recent Posts

  • Jalanmu masih panjang
  • Ketika Kucing dan Tikus lari bersama
  • People Come and Go
  • Sabtu Pagi
  • We suffer more often in imagination than in reality

Recent Comments

    Archives

    • October 2025
    • September 2025
    • August 2025
    • July 2025
    • June 2025
    • May 2025
    • March 2025
    • December 2022
    • August 2022
    • July 2022
    • June 2022
    • February 2022
    • January 2022
    • August 2021
    • February 2021
    • October 2020
    • December 2019
    • November 2019
    • September 2019
    • August 2019
    • October 2018
    • April 2018
    • March 2018
    • January 2018
    • September 2017
    • July 2017
    • May 2017
    • March 2017
    • January 2017
    • December 2016
    • October 2016
    • September 2016
    • August 2016
    • July 2016
    • November 2015
    • October 2015
    • September 2015
    • August 2015
    • June 2015
    • May 2015
    • February 2015
    • January 2015
    • December 2014
    • May 2014
    • April 2014
    • March 2014
    • January 2014
    • December 2013
    • November 2013
    • October 2013

    Categories

    • Blog Project
    • Case Study
    • Idea Projects
    • Knowledge Management
    • Loyalty Project
    • My Blog
    • Office Life
    • Research

    Meta

    • Log in
    • Entries feed
    • Comments feed
    • WordPress.org